Ini Kisahku > Karna Kita Punya Perjuangan

Bagaimana rasanya lulus sarjana dan menjadi wisudawan? Setiap orang pasti mempunyai rasa dan kenangan yang berbeda. Karena selain era yang berganti, juga disebabkan gaya penyelenggaraan setiap perguruan tinggi berbeda. Seperti yang dilakukan ITB dalam acara wisuda sarjana di Sasana Budaya Ganesha pada tanggal 14 Juli 2012.
Ada acara standar tetapi menjadi menarik ketika ada sesi pembacaan kesan-kesan konyol para wisudawan khususnya yang lulus “mulur” hingga tahun keenam.
Menimbulkan gelak tawa, misalnya:
· Cita-cita :  “Mencari Istri yang menjadi tulang punggung keluarga!” ……..Grrrrr…….
· Yang paling tidak disukai : “Melihat teman dengan Indeks Prestasi (IP) diatas 3 …….Grrrr…….
· Yang paling disukai : “:Menjahit dan menyulam”………Grrrr……
Semuanya jauh dari kesan jaga image (jaim), juga jauh dari kesan sok jaga wibawa seperti tampilan luar anak-anak ITB.
Khusus prodi Teknik Sipil, kelompok  wisudawan  yang menamai angkatannya “Cakar langit” didampingi Liaison Officer (LO)  Apa tugas seorang LO? Banyak. Mulai dari menyongsong setiap wisudawan dan orangtuanya hingga memastikan kelancaran dan kenyamanan wisudawan beserta  keluarganya. Seperti mengantar dari kampus ke gedung Sabuga hingga menyiapkan baju ganti wisudawan.
Wisudawan prodi Teknik Sipil harus mengganti bajunya dengan kaos, celana olah raga dan sandal jepit karena akan mendapat sambutan khusus dari adik-adik angkatannya. Termasuk  wisudawan perempuan  cantik-cantik yang semula mengenakan kebaya, bersanggul dan bermake-up lengkap.
13432540641311153498
before
13432542451251535785
after wisuda
Sebelum mendapat urutan untuk di sambut dan diarak, para wisudawan dijemur di tengah lapangan yang terletak disamping gedung Sabuga. Hingga akhirnya rombongan pengarak datang dengan segala atribut, yel-yel dan musiknya.
13426425551356841507
sah, melepas status mahasiswa
13426419451203006850
beda himpunan, beda gaya
Arak-arakan tiap prodi sangat menarik. Ada yang berpakaian bak Snow White, ada yang berpakaian bak Indian. Bahkan ada yang bertelanjang dada dan dicoret moret badan serta wajahnya. Entahlah apa kata orang tuanya apabila melihat anak-anaknya rela  berkorban ria demi acara wisuda kakak kelasnya.
13426420461598158598
sambutan teknik mesin memang beda (kiri) ; arak-arakan tiap himpunan (kanan)
Layak disimak penjelasan Daniel yang menjadi LO Eko, anak sulung penulis yang ikut diwisuda kali ini. “ Kita kan nanti juga dilayani dan dirayain seperti angkatannya bang Eko sekarang”.  Mungkin itulah sebabnya setiap anggota himpunan di ITB  all-out dalam  penyelenggaraan  pesta wisuda .
Tidak hanya menyiapkan arak-arakan, panitiapun memastikan  orang tua dan keluarga wisudawan mendapat santap siang dan tempat istirahat yang nyaman. Selain tentu saja mendapat kesempatan melihat para wisudawan dibully.
Dimulai dari semprotan air dan guyuran bedak (atau tepung?) di sepanjang perjalanan Sabuga hingga kampus (dulu kantung plastik  digunakan untuk menimpuk wisudawan  tetapi sekarang diganti pistol air dan selang air yang lebih “ramah lingkungan”). Kemudian wisudawan laki-laki   diinstruksikan untuk push-up. Kenapa? Ya ngga tau, pokoknya push-up aja deh ……  ^_^
Sudah? Belum. Untuk memasuki area, para wisudawan diharuskan menggunakan semacam bakiak panjang yang digunakan bareng sehingga memerlukan kerjasama. Selain itu ada juga ada juga lomba mengambil uang koin dari bola yang sudah berlumur kecap. Dan lomba memasukkan belut dari ember ke botol air mineral.
13426422311211771931
dikerjain……
Tapi jangan membayangkan para kakak kelas ini “nrimo” dibully begitu saja oleh adik kelasnya. Karena lebih tepatnya mereka saling membully. Iyalah kakak angkatan yang sudah lulus pastinya mempunyai wibawa senioritas sehingga ajangpun berubah menjadi saling semprot air dan guyur tepung. Selain itu mayoritas panitia adalah teman seangkatan wisudawan yang belum lulus sidang.
Yang menyeramkan  adalah ketika para wisudawan tiba-tiba berteriak dan  menghambur ke jalan penghubung antar himpunan. Rupanya mereka melihat “musuh bebuyutan” yaitu arak-arakan wisudawan Teknik Pertambangan. Untung acara berubah menjadi saling mengucapkan hening Nggak lucu juga apabila ditengah kebahagiaan wisuda mereka saling tawuran karena  “sisa dendam” pertandingan sepak bola antar prodi.  Selain dengan Teknik Pertambangan, Teknik Sipil  mempunyai “lawan” lainnya, yaitu Geodesi.  Beruntung urutan arak-arakan Geodesi  jauh di depan sebelum Teknik Sipil. Yaelah nak, kalo udah menyangkut sepak bola ternyata kalian nggak beda dengan Viking dan Jakmania  ^_^
1342642347942098495
Teknik Sipil vs Teknik Pertambangan
Di penghujung acara, para LO yang kesemuanya merupakan mahasiswa angkatan termuda  memberikan butir-butir “kata mutiara” sebagai kenang-kenangan kepada masing-masing wisudawan yang didampingi. Sungguh mengharukan. Ada ikatan batin. Tidak sekedar mengenal : “Oh, si A adalah kakak kelasku, dia angkatan sekian”. Tapi lewat ajang ini setiap mahasiswa yang bergabung dalam himpunan di prodinya bisa berjejaring, saling peduli dan menyadari bahwa mereka saling membutuhkan.
Bukankah itu yang terpenting?  Bukankah arti kelulusan hanya sekedar menutup satu lembaran lama  dan membuka lembaran  baru ?
Acara wisuda berlangsung tanggal 14 Juli dan baru diposting tanggal 19 Juli karena mumpung anak-anak ngumpul, penulis asyik membuat ayam kodok dan fermented cassava cake yang gosong ini ^_^
Anda baru saja membaca artikel yang berkategori Cerita Cita dengan judul Ini Kisahku > Karna Kita Punya Perjuangan . Anda bisa bookmark halaman ini dengan URL http://matematikaums.blogspot.com/2014/11/ini-kisahku-karna-kita-punya-perjuangan.html. Terima kasih!
Ditulis oleh: Unknown - Sunday, November 9, 2014

1 Komentar untuk "Ini Kisahku > Karna Kita Punya Perjuangan "